Kritik Kritis untuk Logo Harlah Purworejo, Simbol Kebanggaan atau Propaganda Terselubung? - Klik Media 9

Breaking

Jumat, 31 Januari 2025

Kritik Kritis untuk Logo Harlah Purworejo, Simbol Kebanggaan atau Propaganda Terselubung?

Logo Hari Jadi Purworejo ke 194

Baru baru ini, publik Purworejo dikejutkan dengan sebuah "kado" yang tak terduga: yaitu terkait peluncuran logo Hari Lahir (Harlah) Purworejo ke-194 pada Jum'at, 31 Januari 2025 di Pendopo Kabupaten. Alih-alih informasi ini menjadi simbol kebanggaan yang merepresentasikan sejarah panjang, kearifan lokal, dan kekayaan budaya Purworejo, logo ini justru memicu kegaduhan di ruang publik. Gelombang kekecewaan mengalir deras di media sosial, dengan netizen yang tak segan melontarkan kritik tajam. Sebagian menyebut desainnya tak ubahnya seperti logo taman kanak-kanak, sementara yang lain dengan sinis membandingkannya dengan branding sebuah toko donat. Sebuah ironi yang mencolok, mengingat Purworejo adalah rumah bagi banyak desainer berbakat yang mampu menciptakan karya visual penuh makna.

“bukannya gimana, tpi purworejo ga kekurangan desainer lohh” Tulis pemilik akun Instagram @fadlykurniadi_ dalam komentarnya di Instagram @purworejonya.id.

Pertanyaannya sederhana: Apakah Purworejo kekurangan sumber daya kreatif? Jawabannya tegas: tentu tidak. Kota ini dipenuhi oleh desainer muda penuh inovasi, seniman visioner, dan komunitas kreatif yang terus bergerak menciptakan karya-karya bernilai. Namun, hasil akhir logo ini seolah menjadi tamparan telak bagi potensi tersebut. Ini bukan sekadar persoalan estetika yang meleset, melainkan cerminan dari sebuah proses kreatif yang tertutup, eksklusif, dan minim partisipasi publik. Proses yang tampak lebih menyerupai "proyek titipan" ketimbang sebuah perayaan kreativitas kolektif.

Yang lebih mencemaskan adalah aroma politik yang menyengat dari desain tersebut. Dominasi warna kuning dan merah yang mencolok, ditambah siluet figur yang mencurigakan mirip dengan Bupati dan Wakil Bupati, seolah menjadi kode terselubung: ini bukan sekadar logo peringatan ulang tahun, melainkan baliho politik yang disamarkan. Seharusnya, Harlah Purworejo menjadi momentum inklusif, merayakan keberagaman dan persatuan seluruh elemen masyarakat. Bukan justru menjadi panggung eksklusif bagi segelintir elit politik untuk mengukuhkan citra diri mereka.

Kritik ini melampaui soal selera visual semata. Ini tentang esensi dari sebuah simbol publik. Logo bukan hanya sekadar gambar atau perpaduan warna yang menarik mata; logo adalah identitas yang merepresentasikan karakter, sejarah, dan harapan. Ketika sebuah logo gagal mencerminkan nilai-nilai tersebut, yang hilang bukan hanya estetika, tetapi juga jati diri, kebanggaan kolektif, dan rasa memiliki dari masyarakat.

Sudah saatnya kita berhenti diam dan pasrah. Purworejo membutuhkan perubahan mendasar dalam cara kita memaknai dan menciptakan simbol publik. Proses kreatif haruslah transparan, melibatkan desainer lokal yang kompeten, serta membuka ruang diskusi yang sehat bagi masyarakat luas. Partisipasi publik bukan sekadar formalitas, melainkan fondasi untuk membangun simbol yang benar-benar merefleksikan siapa kita. Jangan biarkan logo kota kita tereduksi menjadi alat propaganda politik yang melupakan esensi kebersamaan dan identitas kita sebagai warga Purworejo. Karena pada akhirnya, Purworejo bukan milik segelintir orang. Purworejo adalah milik kita semua.

Tim Redaksi Klik Media 9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar